Tim ARAKSI NTT dan Pospera TTS Dampingi Korban Pengeroyokan Anggota Linmas dan Aparat Desa di Kepolisian

Reporter : Redaksi Editor: Cyriakus Kiik
  • Bagikan
Timorline.com

Kupang, Timorline.com – Tim ARAKSI NTT dan Pospera Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) berkomitmen mendampingi korban pengeroyokan oknum anggota Linmas dan aparat desa di Kepolisian setempat. Pendampingan ini dilakukan atas persetujuan para korban dan keluarga.

Hal ini disampaikan Tim ARAKSI NTT dan Pospera TTS saat korban Hermes Edi Kause melaporkan kasus yang menimpa dirinya dan istrinya di Mapolres TTS, Selasa (26/03/2024).

Alfred Baun selaku Ketua ARAKSI NTT lebih jauh meminta pihak Polres TTS untuk mengusut tuntas peristiwa yang menimpa Edi Kause dan istrinya Martha Liunesi.

“Kita serahkan proses hukumnya kepada penyidik”, tandas Alfred. Alfred lebih jauh menguraikan tentang kronologis kejadian.

Menurut Alfred, semula ada kesalahpahaman terkait pipa air yang dipindahkan pihak korban ke luar area kebun miliknya.

Disebutkan, pipa itu dipasang aparat desa karena ada program dana desa untuk pengadaan air bersih. Pipa itu dipasang melalui lahan dari mama Martha Liunesi tanpa sepengetahuan mereka. Karena lahan itu ditanami jagung dan jenis tanaman lainnya, pihak keluarga mengajukan permohonan agar pipa itu dipindahkan.

Baca Juga :  Saat Arak-arak Jenazah Guberbur Papua, Kapolda Papua dan Kapolres Jayapura Dilempar Massa

“Mereka mengajukan permohonan kepada RT, RW sampai kepala desa untuk kalau bisa pipa itu dibongkar kembali karena akan menghambat tanaman mereka yang ada di kebun. Kalau musim panas mereka bakar lahan untuk menanam. Mereka takut kalau nanti pipa ikut terbakar sehingga mereka meminta supaya kalau bisa pipa itu dikeluarkan dari lahan kebun, tetapi tidak direspon,” bebernya.

Tetapi, dari penjelasan kepala desa, direncanakan setelah pemilu baru dibuka atau akan duduk bersama untuk membahas masalah yang terjadi. Namun setelah pemilu juga hal tersebut tidak dilaksanakan.

Selain itu, ada juga kejadian orang potong pipa di luar pagar, sehingga bapak Edi Kause dan mama Martha Liunesi sepakat untuk mengeluarkan pipa dari kebun karena tidak ada orang yang bertanggungjawab. Mereka kuatir kalau ada yang menganggap bahwa mereka yang merusakkan pipa. Sehingga mereka kemudian mengeluarkan pipa dari dalam kebun ke luar pagar.

Baca Juga :  Ibarat Penculik Profesional, Sekelompok Oknum Polairud Bali Minta Tebusan Rp90 Juta

“Ada informasi yang sampai ke kepala dusun. Lalu datanglah kepala dusun. Mereka bicara baik-baik. Dalam pembicaraan itu, kepala dusun berupaya mempersalahkan mereka dalam konteks bongkar pipa ini. Pada saat itu bapak ini tidak terima baik. Bapak ini bilang dia sudah meminta pihak aparat desa untuk melepaskan pipa ini tetapi karena belum juga dilepas aparat desa sehingga pihaknya mengeluarkan pipa yang ada di dalam kebun ke luar pagar.

“Karena adu mulut, bapak ini sempat pukul bapak dusun dan sempat luka. Waktu itu beliau datang ke rumah juga dalam keadaan mabuk. Hal itu terbukti dari bau alkohol yang tercium dari mulut. Usai kejadian, mereka sudah langsung berdamai. Mereka duduk bersama-sama untuk selesaikan masalah yang ada,” tambahnya.

  • Bagikan